ANALOGI YANG TIDAK BERIRISAN
Ini cerita di penghujung Oktober. Tiba di Gambir, Kakak saya menjemput dengan.. Oho! Pria Chinese disebelahnya tersenyum ke arah saya dan adik saya. Sebagai seorang berIQ antara 100 dan 200, dan masih ingat kalimat “Life’s short and U have to make it funny” dalam 5 detik, saya membalas senyuman pria tadi (jangan salahkan saya untuk simpangan baku 100 dan tidak memberikan bocoran IQ saya sebenarnya). “Hai, hellouww..!”, tanpa sedikitpun ketidaktulusan didalamnya. Anda bisa pastikan itu.
Tampangnya saja baru disetor hari ini. Bagaimana mungkin saya lancang berucap, “Hello Sista, newcomer more?” Tunggu dulu. Talk about it later. Saya tidak akan menyuguhi Anda sebuah cerita prematur tentangnya.
Hihihihohoho. Life’s short and U have to make it funny, mans are stupid(1). (Berikan saya skor 1-0 untuk sentimental Anda pada kalimat terakhir), petuah wasiat seseorang untuk saya 3 bulan lalu, terakhir kali ke Jakarta. Pria kesekian itu hadir menggantikan pria sebelumnya yang kesekian. (Untuk mengerti kalimat tadi, Anda tidak harus jenius. Jangan membayangkan sesuatu yang complicated seperti merancang RWL(2) berdasarkan antropometri). Memandang hidup, tidak perlu memicingkan mata atau melakukan akomodasi maksimum seperti saat Anda menghadapi slide didepan kelas sementara Anda duduk di sudut belakang. Jika bisa dibuat mudah, kenapa disusahin? Kalau masih ada space didepan, kenapa harus duduk dibelakang?
Analogi yang alot( tidak nyambung) untuk cerita saya: Kalau sudah putus, ngapain diungkit-ungkit lagi? Kalau sudah lama break, tidak berhubungan, ngapain berpelukan lagi? Ah, bukan itu esensinya. Kita kan manusia dewasa (kepala [sudah]2). Tarik ulur sejarah Linux dan Windows. Linux dirasa lebih susah penggunaannya karena kita sudah terbiasa dengan tampilan Windows yang notabene digunakan lebih dulu oleh orang awam. Atau Internet Explorer dengan Mozilla Firefox. Prefer yang lebih baik, sudah sifat manusia bukan?
Baiklah, sebelum Anda semakin bingung dengan ngalor ngidul tak berujung ini, saya kasih konklusi versi saya:
1. Pacaran, putus, nyambung, putus lagi, who cares? None of your business, right? People learn from mistakes. Jika suatu saat Internet Explorer lebih baik dari Mozilla/Opera, bukanlah hal yang tidak mungkin kita akan kembali prefer Internet Explorer.
2. Kalau saya mau pacaran kemarin sama anak TL, sekarang sama anak TI, besok sama anak GEA, lusa sama anak MESIN, dan menikah sama anak IF, dan saya katakan kalau saya memang butuh pria (berikan saya skor 1-1 untuk itu), trus kenapa? Bukankah kita memang selalu mencari yang lebih baik? I’m telling you now, this is naturally IE (3).
3. TAPI, perlu Anda ingat, kalau pacaran dibuat selalu mencari yang lebih baik, tidak akan ada ujungnya. Karena, kembali lagi ke realita: tidak ada orang yang sempurna. Justru setiap hubungan memang tujuannya saling melengkapi. (Melaksanakannya tidak semudah mengucapkan kalimat tadi, tentunya).
Analogi lain dalam membuat pilihan. Saat Anda memutuskan untuk menikmati unagi mori sushi yang tampak aneh, Anda telah memutuskan sesuatu yang besar daripada sekedar memandangnya, menahan air liur antara kepingin dan jijik, lalu pulang dan menyimpan sebuah misteri tentang sebuah sushi yang tak terpecahkan hingga akhir hayat dan mati penasaran. Ah, mungkin saya menghadirkannya dengan kebengisan tiada dua, namun percayalah, hidup tidak sepelik itu.
Catatan kaki:
1. Hidup itu nggak lama, dibuat seneng aja. Cowo-cowo itu bego koq..
2. RWL=Recommended Weight Limit. Beban maksimum yang masih bisa dihandle oleh pekerja normal supaya nggak pegel-pegel. Ngitungnya pake antropometri.
3. Prinsipnya orang IE(Industrial Engineering): Nggak ada yang terbaik, tapi pasti selalu ada yang lebih baik (find a better way).
November 20th, 2006 at 3:26 am
huehuehue….udah pinter nya?
November 23rd, 2006 at 2:46 am
kWEK Kwek Kwekkkk…
December 6th, 2006 at 1:58 am
wah sampai segitunya ya pemikirannya…
Sepertinya ada yang perlu dicari lagi..
hmm.. Kalo men-general-kan so pasti tidak semuanya benar…
Kalo semua co bego..trus kenapa pacaran ama co:)hihi..peace…
Just a comment…
December 8th, 2006 at 2:00 am
Lah, justru karena cowo itu bego makanya saya suka, hehehe. No hard feeling ah! Namanya juga petuah wasiat,