Tuesday, December 25, 2007

Stories Of The Year

Tu wa ga pat! Tahun 2007 akan berakhir dalam hitungan hari. Hei, bagaimana tahun 2007 kalian? Buat saya, ini tahun penuh dengan hal tak terduga. Tahun 2007.. its funny how time goes by..

  1. Saya resmi pacaran dengan seseorang. Dimana setiap hela nafas adalah bahagia. Merasa telah menemukan jawaban atas doa, walau kemudian harus berakhir dan..ah, tak terungkapkan. Mungkin ini bagian yang akan selalu dibingkai rapi di satu bagian hati.

  2. Kuliah Kerja TI ITB 2004. Bagian yang ini mungkin dibingkai di bagian hati yang lain. Ada banyak cerita disana.

  3. Resmi jadi penulis di Asia Blogging Network.

  4. Akhirnya saya lulus kuliah Logika Pemrograman! Ini hal besar! Tentu saja, pemrograman itu tidak menyenangkan dan memutar-mutar otak saya sampai kusut.

  5. Kerja Praktek. Ini bagian yang menyenangkan untuk diingat. Apalagi waktu lowong habis KP membuat film-film yang sedang marak di bioskop hampir seluruhnya ditonton. Braga City Walk selalu menanti. Hehehe.

  6. Jadi konsultan satu semester untuk perancangan lay out pabrik. Alhamdulillah, tugas menantang ini sudah selesai. Damn, gue harus buat perusahaan konsultan beneran nih. Ilmu, udah ada. Company logo, udah ada. Pengalaman, udah 1 semester. Mari kita bergabung, rekan-rekan TI!
  7. Ngelamar jadi Marketing Freelancer di salah satu radio. Eh, tidak diterima! Mungkin manager Marketing nya merasa suaranya bakal tersaingi dengan kecemprengan suara saya.

  8. Ngelamar jadi part timer di Starbucks BIP. Eh, tidak diterima juga! Yang ini, mungkin karena..Manager Café nya takut cinlok sama gua. Wakakak..

  9. Kembali terpana dengan orang yang jauh lebih tua. Ini penyakit dari zaman SD. Tapi setelah saya tau bahwa teman saya juga suka kepada pria itu, kami sepakat untuk menyerahkan ‘pria’ itu kepada istrinya saja. Ya iyalah.. Mau tau, siapa dia? Jangan ge er dulu. Kandidat yang saya jagokan pada Pemilu Ketua Ikatan Alumni ITB 2007. There he goes..

  10. Berhasil mengisi hari libur dengan trip perjalanan wisata. Sudah lama sekali saya ingin ke danau. Dan, keberangkatan rombongan Qwords.com kemarin cukup memenuhi hasrat ini.

  11. Ke Monas. Ini monumental. Kejadian hari Lebaran itu benar-benar monumental . Ya kan, ki, wung?

Overall, tahun 2007 asik lah. Semoga tahun 2008 lebih asik dan seru. Hidup baru. Semangat baru. Komputer baru, pengennya. Wisuda, Amin. Kerja baru. Pacar baru. OOOOOhhhh…

                            

Friday, November 02, 2007

DOUBLE IMPACT : Optimizing Your Potential

 

Nggak jarang, orang gonta-ganti kerjaan. Udah kerja belasan tahun, baru ngerasa ga cocok. Atau, udah kuliah 3 tahun, di tingkat akhir malah mundur. Alasannya : “Nggak cocok, bukan hidup gue”. Sementara umur udah nggak muda-muda banget.

Nah, pada nggak mau kejadian kayagitu terjadi ke kamu kan? Buat yang masih SMU, nentuin pilihan di PTN/Insitut mana yang kamu mau, juga harus based on research. Kamu perlu mengenali, dimana bakat kamu yang paling dominan. Buat yang mau cari kerja, workshop ini akan memberikan clue,di bidang & posisi apa kamu paling cocok.

Makanya, kamu harus ikut: Trainer :
1. Andrie Wongso --> Trainer motivasi no.1 di Indonesia
2. Rama Royani --> Talent Mapping Software developer no.1 di dunia

Kapan : Minggu, 11 November 2007 jam 8.30-15.30, Aula Barat ITB
Benefit : Dengan ikut workshop ini kamu bisa,
1. Pilih jurusan paling sesuai potensi, bakat, dan kemampuan! Ga ada ngundurin diri pas kuliah. Ga ada ganti-ganti profesi pas kerja. Oh, come on! We’re not 12 years old people yang wajib nurut kemauan orangtua. Tentuin prioritas hidup kamu dari sekarang!
2. Mengenali 10 kemampuan paling dominan dalam diri kamu.
3. Cari kerja yang pas!
4. Cari cara motivasi diri yang bener!
5. Dan sejuta benefit lainnya yang akan selalu hadir dalam hidup kamu.

HTM Rp 100.000, Udah termasuk :
+++ Bonus Test Assessment Talent Mapping seharga Rp 75.000 -->Gratis!
+++ Sertifikat
+++ Seminar Kit yang keren
+++ Makan siang yummy yummy!
+++ Dan tentunya, teman baru untuk bisnis, diskusi, gebetan juga bisa :)

Buruan, daftar Echi TI’04
+62857 2006 9486

Friday, June 29, 2007

New Site

Kawan, saya bermigrasi blog ya. Ke yessipratiwi.blogspot.com
Jangan lupa lihat tulisan saya di asiablogging.com juga... thx thx thx ;)

Sunday, May 13, 2007

GALAU

Mumet. Banyak hal yang menyita ruang otak, seperti berebutan mau keluar. Kemarin aku dioperasi. Kemarin aku pingsan di toilet RSHS. Kemarin aku ditawarin jadi SPG tapi under UMR. Kemarin aku kecewa dengan ‘teman tidur’ku. Lagi musim UAS. Aku harus apply Kerja Praktek. Aku kangen Mama. Aku naksir Peter Parker. Aku ketemu Another Seven Stars. Aku harus menyelesaikan tugas-tugas yang datang silih berganti tanpa kompromi. Aku harus cari income buat sekolah si adik. Teman-temanku arrange rencana bersenang-senang, tapi bukan itu yang aku butuhkan. Aku diajakin kawin. Aku bingung. Terluka kah aku? Aku menghitung hari. Aku sendiri. Aku… galau…

I don’t understand what I've become.  I ‘d try to see life as fun and take it as I can…

Thursday, March 22, 2007

SSSTTT... SELINGKUH !!!

Pernah mencoba selingkuh? Atau pernah selingkuh, tepatnya? Jika saya melihat film-film atau novel-novel sekarang, banyak sekali yang mengangkat tema ini. Ambil saja contoh : ”Jomblo”, “Pesan dari surga”, esensi  utamanya malah tentang selingkuh, jauh menjiwai film itu sendiri dibanding judulnya. Atau “Rumor Has It”, “Sex And The City”, dan “The Truth Abot Love”

Dulu, saya masih berpegang pada asumsi : selingkuh itu cuma pelampiasan perasaan saat kita tidak menemukan sesuatu yang kita butuhkan dari seseorang, lantas kita akan berusaha mencari pemenuhan kebutuhan tersebut dari orang lain. Entah kenapa, lantas neuron otak saya lantas menganalogikannya dengan Teori  Hierarki Kebutuhan Maslow. Saat kebutuhan dasar kita sudah terpenuhi, maka kita akan berusaha untuk mencari pemuasan atas kebutuhan yang lebih tinggi lagi levelnya. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, manusia melakukan berbagai macam cara. Kecenderungan satu orang untuk mencari kepuasan akan berbeda namun juga bisa sama dengan orang lain, tergantung sifat dan nilai-nilai individu yang membangun kepribadian orang tersebut.

Yah, pada dasarnya selingkuh juga merupakan salah satu pemenuhan kebutuhan buat saya, saya menganggapnya manusiawi banget. Tapi tetap saja, frame nya orang selingkuh di mata saya, salah. Bagaimana bisa? Karena ada yang nyungsep, yaitu ketidakjelasan hubungan, dan nihilnya keberanian untuk mengambil keputusan dalam menentukan pilihan, hingga seseorang yang selingkuh lebih memilih untuk mempertahankan hal-hal penuh konstrain dalam kamus selingkuh. Bermesraan ngga boleh ditempat umum takut keliatan, di HP, nama selingkuhan ngga boleh disave dengan “Echi Sayang” malah disave “Echi TI04”. Penuh konstrain bukan?

Lalu apa yang menyebabkan dua orang bisa selingkuh dan berjalan sejalan, saling pengertian, dan tidak  lagi mempermasalahkan status selingkuh? Apa yang menyebabkan seorang selingkuhan bisa menerima untuk tidak selalu di nomorsatukan, menahan ego, dan mengorbakan perasaan? Malah menurut saya, disitulah orang tersebut memaknai cinta. Seperti kata-kata klise yang sering saya dengar, cinta adalah saat kamu menyayangi seseorang dengan segenap hati, dan merelakan apa yang kan membuatnya bahagia, termasuk membiarkannya bahagia bersama orang lain.

Hmm.. pada dasarnya, semua orang patut bahagia dan dibahagiakan. Jatuh cinta, berjuta rasanya. Orang yang selingkuh, karena jatuh cinta jugakah? Tergantung niat. Kalo niat baik, jalannya juga pasti baik. Tinggal kitanya saja yang harus memilih, seperti apa kita akan menjalani dan mengungkapkannya kelak, karena perselingkuhan juga ngga selamanya akan jadi perselingkuhan. Semua ada endingnya. Dan percaya nggak? Orang di rumah saya sendiri, buka kartu, ternyata ia menikah dengan selingkuhannya. Yeah, yang berawal dari hati, akan kembali ke hati. Konlusi : selingkuh juga salah satu cara Tuhan mempertemukan kita dengan jodoh kan? Jangan bilang “nggak!”

Monday, February 19, 2007

METAMORFOSA

Tujuh gadis polos terpisah ruang dan waktu. Tiga setengah tahun lalu, mereka disebut TSS. The Seven Stars. Yang cantik, yang pinter, yang diincer. Dulu.

Wanita bermata sipit, dulu anti pria. Sekarang menikah muda. ”Jangan salahkan vagina”, katanya.

Yang berhati lembut, masih setia jadi anak pendeta. Yang anak dokter, sibuk cari kerja.

Bunga kelas dulu, masih memilah-milah pria. Mottonya,”Gw ngga mau dapet cowo tai babi”.

Tiga jiwa tersisa.

Satu diantara kami masih belum mengerti dunia. Satu diantara kami, tidak punya keluarga yang bertanya kabar. Satu diantara kami anak Olimpiade Fisika, sekarang terancam DO, tertatih mencari biaya operasional hidup. Satu diantara kami dulu selalu tertawa. Semangat tak pernah padam seorang perawan. Darah yang dulu selalu berontak, sekarang berteman akrab dengan keputusasaan.

Dua diantara kami baru tau Jakarta. Baru merasakan kepekatannya dari dekat, dan turut meliuk mengental dalam derunya. "Jakarta emang freak, njing!", udah biasa ngomong begitu.

Satu yang paling muda menyimpan trauma... Katanya, ia sudah tidak punya airmata, kecuali jika ia menemukan seseorang yang bersedia menangis untuknya...

Saturday, February 10, 2007

KULKER TI 2004

Tanggal 31 Januari-3 Februari kemarin, TI 2004 mengadakan Kuliah Kerja (Kulker) ke PT Coca Cola Bottling Indonesia, Astra Honda Motor (AHM), Bogasari, dan PT Krakatau Steel. Umumnya, kunjungan diawali dengan seminar terlebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan plantour (kunjungan pabrik).

Secara garis besar, kita mengupas profile perusahaan, flow proses produksi secara detail, deskripsi produk, trend pasar, supply chains management, demand, kompetitor, hingga konstrain pengambilan keputusan. Teori kuliah yang selama ini dipelajari ternyata semua ada prakteknya.

Sebenarnya, waktu seharian banyak terbuang dengan moving villa-perusahaan-tempat makan. Tapi kalau tidak demikian, nggak asik dong? Iya. Karena saat-saat paling menyenangkan adalah justru saat kita berada dalam bis yang sama, makan bareng, tertawa bareng, ngantuk bareng, lantas tidur bareng dan bangun bareng pula. Ada dua orang teman yang jadi guide dadakan selama perjalanan. Tidak kehabisan ide, mereka berusaha membuat kita tertawa. Kadang apa yang diomongin crispy juga, lalu kita akan menghujat mereka bersama-sama. Banyak yang sibuk dengan tebak-tebakan sendiri. Ada yang sibuk mengambil foto, ada yang sibuk minta difoto, ada pula yang mencari-cari monito ( Monito = Apa? Hanya anak TI yang tau)

Hari terakhir, kita menginap di Hotel Bukit Biru di Pantai Carita, sekalian refresh. For our private note, saya sempat curi-curi pandang ke beberapa pria yang berenang disana. Hahaaa..ternyata si anu six packs. Cuci mata deh.. Kakakakk. Saya sendiri, bersama 4 orang rekan saya, malah asyik naik Banana Boat dan jatuh di tengah laut sampai batuk.

Buat yang penasaran jepretan kamera dokumentasi Kulker, lebih lengkapnya silahkan kunjungi http://groups.yahoo.com/group/13404/

NIKMATIN IDUP

Selasa kemarin, saya bercakap-cakap dengan seorang teman. Entah kenapa, begitu melihat tampangnya, lantas saya menganggap dia adalah Tri Bas. Konyolnya, selama percakapan, saya memanggil dengan nama tersebut, dan dia sama sekali tidak komplain. Kita ketawa-ketawa saja sampai akhirnya dia bilang,”Ci, kayaknya ada yang perlu diperbaiki deh..” Tapi belum selesai dia bicara, malah dia bilang, ”Ngga jadi deh Ci..”. Terang saya jadi penasaran. Banget. 

Malamnya, dia SMS saya. ”Ci, ngga jadi deh, sori banget yang tadi. Sigit.” Dasar saya sedang kelewat tulalit, belum sadar juga kalo jelas-jelas dia bukan Tri Bas, tapi Sigit. Sekitar jam 11an, saya merenungi kejadian-kejadian hari itu, bagian dari kerja otak saya sebelum tidur. Baru kemudian saya sadar kebodohan saya dan langsung minta maaf. Padahal diteropong dari angle manapun, mana ada irisan antara Sigit dan Tri Bas, selain mereka sama-sama teman saya.

 
Tadinya saya udah beresolusi, sifat pelupa dan blo’on will be so last year for me, hal yang saya anggap sama terhadap celana palazzo.
Ternyata masiiiiiih aja. Mungkin kalo saya buat album Autobiography seperti Ashlee Simpson, orang akan terpingkal-pingkal. Selain karena saya bukan selebritis (ngapain buat album?), orang mungkin akan menertawakan bodohnya diri ini.

Namun itulah saya. Dengan keadaan saya yang begini, orang-orang menerima saya. Ikra udah tau, saya suka pura-pura pingsan biar diperhatikan. Siska nggak keberatan saya gombalin sampai dikira pasangan lesbi sama orang-orang. DisneylandKata Rida, saya membuatnya lebih bisa bersyukur pada Tuhan. Kata Ridwan, kadang saya membawa miracle buat dia. Kata Harry, saya seperti anak kecil yang baru masuk Disneyland. Sawung bilang, saya suka ngelawan dosen. Terserah mereka mau bilang apa. The most important thing is, we know our self better everyday. Improve diri, dan senang menjadi diri kita apa adanya.

I wish everybody love their self, and hopefully people would notice that, sehingga dengan menghargai diri sendiri, orang lain akan menghargai kita. Dengan begitu, kita nikmatin idup.

Friday, January 19, 2007

HIDUP HIDUP!!

Bagaimana bisa saya mencak-mencak dengan keadaan sekarang. Tadi saya habis becermin. Rahang saya mulai terlihat, kerutan garis mata mulai tampak. Umur sudah kepala dua, namun masih kurang pintar bersyukur.

Bukannya sedang diterpa ’A Premature Quarter Life Crisis’, saya hanya ingin lebih merasakan perbedaan itu, dan fisik adalah indikasi termudah mengetahuinya. Rasanya, baru kemarin saya daftar ulang masuk ITB. Baru kemarin Tahun Baru, sekarang sudah tanggal 14. Baru kemarin saya mengenal cinta yang membuat saya merasa cantik apa adanya, baru kemarin saya diteror orang gila, baru kemarin saya tertawa, sekarang bisa menangis lagi.

Jadi merenung sendiri, hidup kita memang ada fasenya. Kadang, tidak usah dipaksa harus begini begitu, it will come to what it should be. Dahulu, saya termasuk orang yang going where the wind blows, walau kadang agak skeptis terhadap beberapa hal. Sudah ada Yang Ngatur. Ada rute yang memang harus kita tempuh. Sekarang harus ketemu siapa, dengan dia akan mengalami apa, lalu akan digantikan oleh siapa, arahnya kemana. ”Ada yang datang dan pergi”, kata Sawung.

Ah, bagaimanapun rute hidup kita berbeda, toh cara kita memandang hidup juga yang membuat kita bisa menerima kenyataan, memilih apa yang patut diyakini, tidak memaksa harus ngoyo ingin belok kesana kesini. Belajar ’nrimo’. Masalah membuat kita kuat. Sendiri membuat tegar. Dan beruntung sekali, Desember kemarin saya baru menyadari, Tuhan menghadirkan orang-orang yang tepat untuk menyadarkan saya bahwa saya tidak sendiri. Dan semua ini ada arahnya.

Tuesday, December 05, 2006

RESOLUSI DI PENGHUJUNG 2006

Bolos kuliah jam 7 pagi, saya malah ongkang-ongkang dikos. Semangat saya sepertinya sedang mereduksi. Di depan komputer, saya idle entah berapa lama. Kutak-katik folder. Ganti desktop background. Scanning gambar nggak penting.

Pandangan saya keluar jendela. Beberapa hari terakhir saya ketinggalan pemandangan matahari terbit yang saya saksikan lewat jendela ini setiap pagi. Kalau berkabut, biasanya lampu-lampu kota Bandung agak redup dan gunung yang ada di ufuk sana tak terlihat batasnya.

Memandangnya, saya teringat diri saya. Batas yang tidak jelas. Bahagiakah saya di tahun 2006 ini? Kalau ada pria yang mengungkapkan cinta ke Anda, lantas Anda bahagia, bukan bahagia yang seperti itu yang saya maksud. Hidup seperti sudah jadi kebiasaan. Bangun, kuliah, capek, kalau kecapean jadi sakit, sakit berobat, berobat pake duit, mau duit harus kerja, dsb dsb. Pattern yang itu-itu saja.

Padahal saya ingin banyak hal. Ingin meninggalkan kebiasaan SKS. Ingin pulang ke Sumatra. Ingin giat bekerja. Ingin menabung dan bawa oleh-oleh buat keluarga. Ingin jadi diri yang sederhana. Ingin ikut kelas balet. Ingin ke laut/danau. Ingin menjadi wanita lembut. Ingin ‘menyayangi’ satu orang saja. Ingin membuka usaha. Ingin menjadi manusia yang baik. Ingin dekat dengan Tuhan. Ingin menikah karena desperate. Ingin tidak punya airmata. Ingin... Ah, banyaknya.

Tidak ingin sakit-sakitan lagi. Tidak ingin ngoyo. Tidak ingin memasang target yang tidak feasible. Tidak ingin melukai. Tidak ingin berbicara tanpa pikir panjang. Tidak ingin menegur adik saya dengan cara yang salah. Tidak ingin membebani terlalu banyak orang. Tidak ingin kecanduan sifat pelupa lagi [lupa bawa HP & dompet, lupa rumus contekan ujian, lupa tanggal, lupa makan sayur, lupa bayar hutang dimana-mana.. hehehe ]

Nah! Makanya saya planning resolusi. Judulnya: 2007. Contentnya: semua hal yang saya ingin/tidak inginkan. Subjeknya: saya, keluarga, mungkin Anda juga ada didalamnya. Bolehlah ge-er sedikit. Saya memang sedang memikirkan Anda untuk beresolusi dengan saya. Hahaha..

(Idle di depan komputer ternyata punya usage juga. Pencerahan. Buktinya, saya bisa buat template seperti ini. Semoga bukan hanya template B-)

Saturday, December 02, 2006

ADAM-ku

Sayang, taukah kamu.. Hari ini aku capek sekali. Membantu sebuah acara, menyumbang tenaga untuk menebus sesuatu yang telah lama kujanjikan pada seseorang. Senin aku ada ujian, besok masih harus kerja lagi, tapi entah kenapa aku begitu semangat menjalani. Aku tau masih ada kehangatan buatku nanti. Yang walau jika sekejap saja kuhabiskan denganmu, kan hilang semua lelah dan gundah.

Misty_1

Friday, December 01, 2006

10 DAYS, THANKS TO YOU…

Sakit kemarin, memaksa saya cuma bisa berbaring dan menatap langit-langit kamar. Agenda harian hanya makan, minum jus, minum obat, menerima SMS “cepet sembuh ya”, dan menonton TV dengan posisi tidak sempurna. Sakit! Iya, sakit! Banyak yang terlewatkan. Kuliah, Praktikum PTI, Praktikum BasDat, Kuis OR, tugas-tugas dsb. Sepuluh hari penuh penantian.
 

Karena sudah terlalu sering mimpi sembuh dari sakit dan kecewa di pagi hari karena terbangun masih sakit, saya paksakan diri joging dalam kamar. Lompat-lompat sambil ngakak didepan cermin, teriak “aku harus sembuh”. Yang ada, malah denyut-denyut sakit itu semakin terasa, kepala berputar-putar hingga terbaring lagi tak berdaya.


Tapi, sungguh terimakasih untuk ‘engkau-engkau’ yang ada disana. [Tidak mau menyebutnya ‘kamu-kamu’ atau ‘elu-elu’, karena kata-kata itu tidak representatif menunjukkan berharganya kalian buatku]. Yang setia menjaga dan menemani, yang membelikan obat sambil nginstalin Update-an McAfee, yang membawakan sarapan sambil numpang mandi, yang mau buang banyak pulsa untuk tau keadaan saya, yang ngeledekin saya sudah jadi gendut karena makan dan berbaring terus.

 

Hm.. kalau sudah begini, baru terasa nikmatnya sehat. Sungguh saya jadi dungu dengan pertanyaan kepada diri sendiri, “Selama ini sehat dipakai buat apa?”

Monday, November 06, 2006

PENDIDIKAN SEBAGAI MESIN

Hmm.. omongan kali ini mulai merembet ke pendidikan, menyambung lidah Pak Gede Raka, dosen Manajemen Inovasi idola saya. Meneropong pendidikan Indonesia dewasa ini. Pendidikan dengan mesin? Analoginya seperti ini. Pendidikan pada hakekatnya punya tujuan (perlukah saya tuangkan disini?) Jika pendidikan kita ibaratkan sebagai mesin, maka untuk menjalankan mesin, kita perlu menekan tombol-tombol pada mesin dan ia pun akan bekerja. Apakah setelah tombol ditekan, tugas kita selesai? Retorika buat logika Anda.

We don’t do education, we do training”, katanya. Sejak kecil kita digenjot dengan all about damn contextual education. Yang mengantarkan kuliah atau pelajaran sekolah dengan kalimat standar: pen-di-di-kan-a-da-lah-ti-tik-du-a-bla-bla-bla. Belum lagi nominal nominal –all of the fucking money things- yang setia menjadi pelengkap atau keterangan di setiap kalimat berbau pendidikan. Kuliah sekian juta, masuk SMU negeri sekian duit. Mahalnya pendidikan, tidak diimbangi dengan hakikat pendidikan itu sendiri.

Tidak heran, korupsi paling parah malah terjadi di DepAg. What’s this? Failure of education, yang mencetak orang-orang dengan Lot of Brain, No Heart. Pendidikan harusnya bukan sekedar cuap-cuap cacip cacip proses mahal yang kaku. Dalam komunitas pendidikan, system perintah dan tunggu-hasil saja belum cukup, seperti apa yang kita lakukan pada mesin. Ada yang disebut ‘proses’, termasuk di dalamnya interaksi elemen-elemen pendidikan tersebut dengan lingkungan (bukan sekedar siapa tetangga Anda), tata nilai (bukan sekedar tata bahasa, tata busana atau tata-tata lainnya), budaya (bukan buaya), struktur(bukan sekedar pengetahuan struktur-nya TL atau struktur jembatan beton-nya Sipil), dan banyak hal lain yang harusnya jika diterapkan dengan baik tidak akan lagi memproduksi robot-robot dengan mental-machine model. Sebagaimana kita tau, mesin tidak butuh interaksi dengan lingkungan, dan kita bukan bagiannya kan?

Jadi, mari kita belajar melihat value-value lain yang bertebaran di sekitar kita. Semua bisa jadi pelajaran. Mungkin dengan itu, selain kita akan lebih berjiwa “tidak mesin”, kita juga belajar membelajarkan diri sendiri. (No hard feeling for HMM ya. Objek omongan kita beda ya? ;p)

[Thanks to PSIK ITB, sekolah hidup-ku..]

ANALOGI YANG TIDAK BERIRISAN

Ini cerita di penghujung Oktober. Tiba di Gambir, Kakak saya menjemput dengan.. Oho! Pria Chinese disebelahnya tersenyum ke arah saya dan adik saya. Sebagai seorang berIQ antara 100 dan 200, dan masih ingat kalimat “Life’s short and U have to make it funny” dalam 5 detik, saya membalas senyuman pria tadi (jangan salahkan saya untuk simpangan baku 100 dan tidak memberikan bocoran IQ saya sebenarnya). “Hai, hellouww..!”, tanpa sedikitpun ketidaktulusan didalamnya. Anda bisa pastikan itu.

Tampangnya saja baru disetor hari ini. Bagaimana mungkin saya lancang berucap, “Hello Sista, newcomer more?” Tunggu dulu. Talk about it later. Saya tidak akan menyuguhi Anda sebuah cerita prematur tentangnya.

Hihihihohoho. Life’s short and U have to make it funny, mans are stupid(1). (Berikan saya skor 1-0 untuk sentimental Anda pada kalimat terakhir), petuah wasiat seseorang untuk saya 3 bulan lalu, terakhir kali ke Jakarta. Pria kesekian itu hadir menggantikan pria sebelumnya yang kesekian. (Untuk mengerti kalimat tadi, Anda tidak harus jenius. Jangan membayangkan sesuatu yang complicated seperti merancang RWL(2) berdasarkan antropometri). Memandang hidup, tidak perlu memicingkan mata atau melakukan akomodasi maksimum seperti saat Anda menghadapi slide didepan kelas sementara Anda duduk di sudut belakang. Jika bisa dibuat mudah, kenapa disusahin? Kalau masih ada space didepan, kenapa harus duduk dibelakang?

Analogi yang alot( tidak nyambung) untuk cerita saya: Kalau sudah putus, ngapain diungkit-ungkit lagi? Kalau sudah lama break, tidak berhubungan, ngapain berpelukan lagi? Ah, bukan itu esensinya. Kita kan manusia dewasa (kepala [sudah]2). Tarik ulur sejarah Linux dan Windows. Linux dirasa lebih susah penggunaannya karena kita sudah terbiasa dengan tampilan Windows yang notabene digunakan lebih dulu oleh orang awam. Atau Internet Explorer dengan Mozilla Firefox. Prefer yang lebih baik, sudah sifat manusia bukan?

Baiklah, sebelum Anda semakin bingung dengan ngalor ngidul tak berujung ini, saya kasih konklusi versi saya:
1. Pacaran, putus, nyambung, putus lagi, who cares? None of your business, right? People learn from mistakes. Jika suatu saat Internet Explorer lebih baik dari Mozilla/Opera, bukanlah hal yang tidak mungkin kita akan kembali prefer Internet Explorer.
2. Kalau saya mau pacaran kemarin sama anak TL, sekarang sama anak TI, besok sama anak GEA, lusa sama anak MESIN, dan menikah sama anak IF, dan saya katakan kalau saya memang butuh pria (berikan saya skor 1-1 untuk itu), trus kenapa? Bukankah kita memang selalu mencari yang lebih baik? I’m telling you now, this is naturally IE (3).
3. TAPI, perlu Anda ingat, kalau pacaran dibuat selalu mencari yang lebih baik, tidak akan ada ujungnya. Karena, kembali lagi ke realita: tidak ada orang yang sempurna. Justru setiap hubungan memang tujuannya saling melengkapi. (Melaksanakannya tidak semudah mengucapkan kalimat tadi, tentunya).

Analogi lain dalam membuat pilihan. Saat Anda memutuskan untuk menikmati unagi mori sushi yang tampak aneh, Anda telah memutuskan sesuatu yang besar daripada sekedar memandangnya, menahan air liur antara kepingin dan jijik, lalu pulang dan menyimpan sebuah misteri tentang sebuah sushi yang tak terpecahkan hingga akhir hayat dan mati penasaran. Ah, mungkin saya menghadirkannya dengan kebengisan tiada dua, namun percayalah, hidup tidak sepelik itu.

Catatan kaki: 1. Hidup itu nggak lama, dibuat seneng aja. Cowo-cowo itu bego koq..
2. RWL=Recommended Weight Limit. Beban maksimum yang masih bisa dihandle oleh pekerja normal supaya nggak pegel-pegel. Ngitungnya pake antropometri.
3. Prinsipnya orang IE(Industrial Engineering): Nggak ada yang terbaik, tapi pasti selalu ada yang lebih baik (find a better way).

Monday, October 23, 2006

BASUH LUKA ITU…

Jika untuk yang kesekian kali Lebaran masih mengunjungi kita, demikian juga kata ‘maaf’ akan selalu jadi bagian yang warnai kala itu. Untuk sebuah kenangan, banyak cerita, yang mungkin masih menyesakkan dada Anda—orang-orang yang saya cintai—maafkanlah diri ini. Wallpaper_parasite_eve2_01_1024_2

……Mengukir kisah denganmu, sungguh satu keindahan. Kita pernah sangat menikmati, tertawa, berjalan beriringan dan berpegangan tangan didalamnya. Jika kemudian ada warna lain yang tidak kita inginkan hadir, biarlah demikian adanya untuk kita bingkai bersama. Sekarang, aku basuh luka hati itu. Mungkin masih perih, namun tiada cara selain membuatnya suci dan membukanya kembali. Susah, senang, tawa, bahagia, tangis, hal kecil (mungkin) yang mewarnai ruang-ruang usia. SEMUA, kan jadi kenangan yang tak akan terulang, hanya bersamamu, bersama kalian…

Minal aidin Wal faidzin.. Maafkan lahir dan bathin… 

Thursday, October 19, 2006

AKAN BERAKHIR

Serasa telah tiba di penghujung, walau belum adanya.
Masih mencari, menunggu pagi,
Lagi...

 (Ramadhan kan segera berakhir. Pertanyaannya: “sudah cukup bekalkah kita untuk melepasnya pergi dan biarkannya berakhir?”)

GELAP

Rabu, 18 Oktober 2006, pukul 3:00 dinihari
Berteman peletak-pelatuk adik saya yang lagi bersantap sahur. Dengan sempurna gigi-gigi kecilnya membabat habis tulang ayam goreng crispy yang dibeli seharga 2000-an.  Saya masih menggeluti soal-soal Operation Research (OR) buat UTS siangnya.
“Kamu nggak saur ci?”, tanyanya.
Masih dengan irama mengunyah yang mirip Lagu ‘Saur Dong Saur’ keliling yang membangunkan saya setiap sahur. Halah, halah, gimana ceritanya? Buat orang-orang yang tinggal di lingkungan sekitar kos saya, mungkin sudah pada hafal liriknya. Orang-orang yang mungkin-sangat-pantas- menjadi finalis audisi paduan suara (hayo, stasiun TV mana yang terinspirasi? :O)
        Ibu RW, Bapak RW,  sahur.. (saur dong sauuuurrrrr)
        Ibu Bapak, dan ABG,  sahur.. (saur dong sauurrrrr)
        Kalau enggak saur.. Bisa keburu imsak.. (saur dong sauuuurrrr)

(Coba kalau OR disajikan seperti ini. Rumus sampe yang sekutil mukmin pun saya pasti inget ;D)

Rabu, 18 Oktober 2006 pukul 6:00

Dengan terburu-buru saya menuju kamar mandi. Masih tidak percaya, “ini teh beneran udah jam 6?” Jam 7.30 ada responsi+tes awal praktikum PTI. Telat = pengurangan nilai. Buru-buru mandi. Jebur-jebur jemuuuurrrrr…!!!! Hyah, segarnya. Kayak udah nggak mandi 5 bulan saja!

Rabu, 18 Oktober 2006 pukul 7:05

Selesai ngutak-atik lemari dan dapat satu kemeja warna biru abu-abu. Yuph! It’s ‘ngampus’ time! But first of all, ngangkot duuulu ni sodara-sodara..  Baca modul di angkot sampai pusing sing!

Rabu, 18 Oktober 2006 pukul 8:54
Habis responsi. Tes awal lumayan sukses. Semoga ntar siang UTS OR juga. Na...na..naaaaaa…. Menuju kos buat review bahan sebentar.

Rabu, 18 Oktober 2006 pukul 11:35
Masih bingung memandangi satu Bab ‘MARKOV CHAIN’. Mata sampe berair melototin soal satu nggak beres-beres. Mungkin harusnya saya complain ke Pak Markov, ngapain sih iseng masukin teorinya ke kurikulum TI?
(No hard feeling Pak Markov! Percayalah, saya salah seorang pengagum teori Anda yang hingga-mencapai-usia-setua-ini-belum-bisa-juga-mengerti-teori-Anda itu. Entahlah, mungkin elemen teori dan simbol-simbol yang Anda gunakan saat menyusun teori ini demikian peliknya bagi orang ber ’IQ jongkok’ seperti saya. Ngomong-ngomong Pak Markov ini orang mana toh? Orang Sunda? Kalo saya bilang “susah pisan euy!” berarti ngerti dong? Ato wong Jowo?)

Weleh, pikiran udah ngalor ngidul entah kemana. "Apaan sih ci? Lu tu ye! Dasar orang ngga punya sense of knowledge!" My heart said so. Mengapa saya selalu meng-kambinghitam-kan materi ujian? Saya salah, nggak banyak latihan soal. Selama ini cuma melototin slide dan kumis pak dosen OR lucu yang suka ngambil contoh: “manusia-lahir-remaja-kawin-cerai-duda-tua-kawin lagi-tua-mati” itu sebagai contoh persoalan pas ngajar. Ditambah lagi modal saya cuma hand-out fotokopian burem, hurufnya banyak yang hilang.

Rabu, 18 Oktober 2006 pukul 12:45
Soal dibagikan. Pandangan dari atas ke bawah:
1. Nilai 30 % (yah, kayanya yang ini bisa.. aman..)
2. Nilai 30 % (yang ini kayanya pernah dibahas.. udah ada contohnya, cuma ganti logika)
3. Nilai 40 % (MARKOV CHAIN : hah, keluar juga ni soal? Pake soal a) b) c) d) e) lagi?) Damn! I’ll kick u then, Pak Markov, I swear!

Rabu, 18 Oktober 2006 pukul 13:45
No 1 sudah selesai. No 2, hmm.. gimana caranya ini? Perasaan yang kemaren dibeginiin udah kelar, koq nggak bisa juga? Soal No 3? Arrrrgggghhhh…

Rabu, 18 Oktober 2006 pukul 14:45
Ujian berakhir. Menuju kos. GELAPNYA DUNIA...
Lagi dalam angkot, tiba-tiba..
SMS received:
Tadi gimana? Bisa? Gw ngga bisa beneran. Gw positip ngulang taun depan…
+828562005***
(dunia terang kembali.. saya punya teman  untuk membabat Pak Markov pada episode ujian selanjutnya..)

For your note: cerita ini diceritakan dengan bahasa yang sebenar-benarnya, tanpa intimidasi, ancaman, dan paksaan dari pihak manapun. Kesamaan dan kemiripan nama, lokasi, merupakan benar adanya dan bukan suatu fiktif belaka, namun disarankan untuk tidak meniru atau menyontek cerita saya ini, Hohoho… Selamat menikmati dan menjalankan ibadah puasa-yang-tinggal-beberapa-hari ini… :-))))

Saturday, September 23, 2006

Ke "WAROENG DAWEUNG"

Pernah ke WAROENG DAWEUNG? Minggu lalu, Dio, Usher, Sawung, dan saya [the one and only beautiful lady] diculik kesana oleh Erik habis praktikum PTI. Ups, ini tidak ada irisannya dengan cerita penculikan anak-anak TePeBe ITeBe yang sedang marak yah. Bukan sama sekali. [Piss buat para penculik (^_^)v]
060915_175343
Dsc01709
Dsc01704

Terletak di ujung dunia [kalau saya boleh menyebut demikian, berhubung kemampuan saya dalam mengingat nama, lokasi, kecamatan, suatu tempat Pentium1 banget], tempat ini bisa dicapai setelah mendaki sebuah gunung di Padasuka, Cimohay [Cimahi versi saya ;p] setelah terlebih dahulu [harus] melewati perkampungan, bukit dan lembah, terjal dan curam yang cukup memacu adrenalin—kalau kesananya pake mobil HardTop atau Rocky, atau mobil mountclimber sejenis.

Dsc01708
060915_174905_1     

Dsc01697

Dari puncak, kita bisa menikmati View kota Bandung. Apalagi kalau malam, lengkap dengan kelap-kelip lampu aneka warna. Seperti View Singapura, atau Danau Toba saat malam. Pas sekali dengan cakrawala nan temaram. Menyatu di kaki langit. Sepanjang mata memandang, ya View nya kota Bandung. So sophisticated. Ya.. sedikit mirip The Peak, The View, WaLe, atau Kampung Daun. Bedanya, mungkin sensasi setelah sampai di WAROENG DAWEUNG lebih terasa, karena medan yang dilewati cukup sulit, serasa menaklukkan gunung. (Halah, halah.. kegemaran saya memakai kata “sensasi”, “gunung”, dan “takluk” keluar lagi.)

Intinya: tempatnya E.K.S.O.T.I.S. Makanan enak, viewnya asyik. Tapi kalau pesan makanan atau minuman, harus secepatnya di’masukin ke perut’. Soale dingin euy! Makanya, bawa jaket juga. Yang tebal, jangan yang topless atau backless atau bottomless. [Hwihihi. Kalau bottomless, itu sepertinya rancangan saya sendiri ;p]


060915_174507_2 060915_174822_3
Biarpun di perjalanan pulang mobil sempat mogok, s-a-y-a  s-e-n-a-n-g. Apalagi topik ‘nungging’-nya teman-teman saya yang jelek-jelek itu benar-benar vulgar mengocok perut. Ahahaha hihihi… [Guys, you were damn nasty and Thank you!] Kalau ada yang stress, saya mendukung untuk pergi kesana. Apalagi kalau ‘ngajak saya. Hehehe.. Yang paling bawah, photographernya mao ikutan mejeng =]p.. Siapa yang mau ikut sama 'beliau'? Hehehe..

Sunday, September 10, 2006

BERLALU..

TerdamparDua minggu terakhir, tepatnya setelah matahari berkata: ia masih terbit di Timur dan membawa hari baru.

Ketika kemudian saya sadar telah kehilangan sesuatu yang mungkin tak akan kembali, saya ikhlas berterimakasih untuk semua. Ingin berteriak penuh harap. Membuang sesal dan membiarkannya tergilas kereta yang membawa saya menuju Jakarta. Bosan menunggu telefon, bosan menunggu jawaban SMS, bosan dicueki dan meminta maaf. Meng-amputasi bagian otak saya yang masih berfikir tentangnya. Kali ini, mencoba mengalihkan pandangan ke sudut lain yang selama ini temaram.

Berharap masih bisa membahagiakan orang-orang yang berada di sekeliling saya..

Adikku, mulai nanti malam kita makan bareng ya…  Kakak nggak akan makan diluar lagi..

 

 

 

 

Wednesday, September 06, 2006

TANPA JUDUL

Mereka memasuki angkot. Ya, mereka. Pemain ganda campuran yang menyusul saya memasuki angkot ungu jurusan Cisitu, yang akan membawa saya menuju kos setelah seharian mondar-mandir di kampus nggak jelas juntrungan.

Seorang pria, seorang wanita. Duduk di hadapan saya dengan selamat sentausa. Si wanita pake jilbab. Prianya, biasa saja [maksud saya, prianya nggak ikutan pake jilbab ]. Entah sudah daritadi atau darimana, mereka [ehm!] berpegangan tangan terus. Saling meremas [tangan]. Dan… Welcome move nya adalah: Wanita yang pakai jilbab itu, mengusap-usap tangan kanan pasangannya, menciumnya, lalu menggigitnya pelan. Pria itu, berteriak pelan juga. Berbisik, tepatnya. Menyambut ‘kenakalan’ pacarnya dengan cubitan kecil dipinggang. Giliran si wanita yang teriak sekarang. Lalu saling bersandar. Tubuh keduanya sangat lekat. “Jiwa yang sama-sama nakal”, batin saya.

Terlepas dari status mereka pacaran atau tunangan atau selingkuhan atau apalah, saya rasa ITB masih punya banyak pilihan tempat buat pacaran, kalo memang tujuannya itu. Yang jauh lebih nyaman dan ‘tidak mengganggu kenyamanan orang’. Di perpustakaan, di taman Ganesha, di pojokan Salman. Terbuka buat semua orang. Dari yang terancam DO sampai yang asisten dosen. Dari yang ngomongnya pakai kata-kata mesum sampai assalamualaikum. Dari yang mau baik-baikan sampai nakal-nakalan. Ya nggak? 
Hmm.. setidaknya ini pemandangan yang menghasilkan output, “Iman letaknya di hati, bukan di kepala”. [Kepala siapa? Jangan pura-pura tulalit ya.. Lihat paragraph kedua baris kedua]

Sepanjang perjalanan pulang, saya jadi teringat dengan kejadian beberapa bulan lalu. Saya ikut dalam rombongan danus sebuah acara TI ke Jakarta. Moment dimana saya menemukan sebuah gank [selama ini saya sering kagum dengan icon-icon kekompakan mereka] yang membicarakan keburukan/privacy anggota gank lainnya. Di hadapan saya dan anak-anak lain yang notabene bukan anggota gank mereka. Vulgar, tanpa filter. Lantas, saya jadi berfikir. Apa sih, semua ini?

Sekelompok orang yang takut dianggap tidak eksis, lantas mengatasnamakan dirinya sebagai bagian dari “sesuatu” sebagai tameng? Yang takut kehilangan teman dan kawan nongkrong? Yang pakai jilbab tapi hatinya nggak dijilbabin, yang jadi anggota gank ini itu dan mendeklarasikan kekompakan kemana-mana tapi nol kosong? Nggak ada masalah sih, sama orang-orang seperti itu. Kasihan saja.

Untung my Cisitu Road City nggak macet. Kalau tidak, dosa saya bisa bertambah banyak. Ngomongin keburukan orang, mengumpat dalam hati, dan yang paling buruk: mengobralnya di blog ini. Maafkan saya ya, Tuhan… Makanya saya belom pantes nih, pake jilbab…